Judul : Kuasa Ilmu, Nalar Modernitas, dan Praksis Pendidikan Penulis : Imam Samroni Editor : Purwaningsih Setiandari & Betha Candrasari Penerbit : Pustaka Raja Yogyakarta, 2002 Tebal : viii + 172 halaman INI adalah telaah pendasaran epistemologis tentang pengetahuan di dalam ruang modernitas, terutama kepentingan rasionalitas ilmu di dalam dan sebagai kekuatan modernisme itu sendiri.Studi pengetahuan kontemporer ini dilatari kritik-kritik radikal dari pascamodernisme dan holisme. Sehingga, dengan kejernihan inilah ditawarkan skema praksis pendidikan di Indonesia sebagai implikasi. Buku ini berdasar skripsi “Studi Epistemologi Jürgen Habermas mengenai Rasionalitas Ilmu sebagai Kekuatan Modernisme dan Implikasinya terhadap Praksis Pendidikan di Indonesia” yang telah dipertahankan penulisnya pada jurusan Filsafat dan Sosiologi Pendidikan FIP IKIP Yogyakarta (sekarang: UNY), 1994. Dengan melacak konteks ”nalar modernitas” dalam tradisi Barat --dari Weberian, Habermasian, posmo, juga kecenderungan holisme-- ilmu telah menjadi kuasa pengetahuan. Ilmu yang tidak berbasis ilmiah dipinggirkan, bahkan di dalam wilayah penyelenggaraan pendidikan. Ilmu telah menjadi kriterium. Isu peningkatan kemampuan pembangunan, wacana kapasitas bangsa untuk belajar, konsep kekuatan pendidikan nasional --yang telah menjadi bahasa-gaul pendidikan di Indonesia-- semakin memperjelas hal-ihwal ilmu sebagai kuasa yang selalu disambut gagap oleh para penyelenggara pendidikan.
Alih-alih meratap nasib pendidikan yang selalu dituduh ”kutukan sejarah,” studi ini menawarkan pentingnya dasar-dasar epistemologis yang merelasi kuasa ilmu, nalar modernitas, dan praksis pendidikan. Dengan pendasaran inilah disarankan perlunya mengkaji batas-batas klaim permasalahan empiris, konstruksi teoritis, dan epistemologi. Kejelasan batas ini untuk membaca kuasa ilmu sebagai kultur agung modernisme, yang nyata-nyata menguasai proses produksi dan reproduksi sistem simbolis. Saran selanjutnya adalah perlunya praksis pendidikan yang mengakomodasi kebudayaan (sebagai sistem pengetahuan) berdasar paradigma komunikasi. Jamak maklum, tambal sulam kebijakan pendidikan --meminjam kosakata Habermas untuk menjawab kaum posmo-- adalah ”kritik yang menikam diri sendiri.” Dan betapa kita selama ini mempercumakan energi untuk menambal-sulam praksis pendidikan di Indonesia. Bahkan di kalangan penggiat pendidikan dan pesekolahan yang tulus sekalipun, yang lupa terhadap adanya epistemologi pendidikan, seberat dan sekering apapun. sam |