Center For Islamics Studies

Advertisement
You are here: Home arrow Home arrow Gender menurut Hindu

download makalah diskusi gender agama hindu

PEMAHAMAN SIKAP ADIL GENDER DALAM HINDU
Oleh: Ida Bagus Agung
ImageSekarang ini masyarakat kita menggunakan ideologi gender untuk membedakan peran laki-laki dan perempuan. Dengan ideologi gender ini manusia membuat kotak-kotak, ada kotak laki-laki dan kotak perempuan, sehingga ciri-ciri laki-laki dan ciri-ciri perempuan seakan sudah dikunci mati oleh ideologi gender.

Bahkan sejak lahir, ciri pengkotakan ini sudah ada. Salah satu dampak negatif dari ideologi gender adalah munculnya budaya patriarkhi, seakan wanita adalah warga kelas dua. Walau dalam susastra, laki-laki dan perempuan adalah sama. Dalam masyarakat Hindu, bila keluarga belum melahirkan anak laki-laki, terasa ada yang kurang. Karena dalam pandangan Hindu, putra (anak laki-laki) yang akan menyeberangkan jiwa orangtua ke surga. Dalam agama Hindu, sejak awal kehidupan, perkawinan merupakan salah satu lembaga efektif. Dalam Wreda Smerti disebutkan bahwa hendaknya laki-laki dan perempuan yang terikat dalam ikatan perkawinan berusaha dengan tidak jemu-jemu supaya mereka tidak bercerai dan jangan melanggar kesetiaan antara satu dengan yang lain. Perkawinan hanya sekali dan jangan melanggar kesetiaan.
Dalam Wreda Smerti juga disebutkan; "Hendaknya hubungan suami istri setia sampai mati". Tetapi dalam kenyataan masyarakat, kawin tidak hanya sekali, laki-laki bisa nikah dengan wanita lain, maksimal empat orang.
Dalam Reg Wreda disebutkan bahwa manusia laki-laki dan perempuan sebagai suami istri disebut dengan istilah Dankapi yang berarti tidak bisa dipisahkan. Dalam perkawinan, laki-laki dan perempuan adalah satu tubuh sehingga laki-laki dan perempuan dalam keluarga seharusnya hidup dalam kesetaraan.
Dalam keyakinan Hindu, hidup itu harus mencapai empat hal; yaitu Darma (kebenaran, tugas kewajiban, agama, ajaran moral), Arta (kekayaan), Kama (nafsu) serta Moksa (manunggaling kawulo gusti).
Dalam rangka melaksanakan darma untuk mengejar arta dan kama supaya mencapai moksa, ajaran Hindu menggunakan konsep Catur Asram, yaitu:
-    Brahma Carya, yaitu masa menuntut ilmu pengetahuan (live long education)
-    Grahasta, yaitu masa berumahtangga
-    Wanaprasta, yaitu masa pensiun
-    Biksuka, yaitu masa menunggu mati dengan mendalami agama
Sebagai pedoman berumahtangga, umat Hindu ini diajarkan untuk harmoni, rukun, yang tertuang dalam tritakarana (tiga penyebab kebahagiaan), yaitu; manusia harmoni dengan Tuhan, manusia harmoni dengan sesama, manusia harmoni dengan lingkungan. Dengan konsep tritakarana ini, manusia tidak boleh hinakarma (menyakiti orang lain).
Tugas dan kewajiban suami dalam rumahtangga adalah;
1.    Mengupayakan kesehatan jasmani anak.
2.    Membangun jiwa anak.
3.    Memberi makan anak.
4.    Memeberi perlindungan pada anak dan istri.
5.    Menyelamatkan keluarga saat bahaya datang.
6.    Mengusahakan makanan yang sehat dan suci serta diperoleh dari perbuatan yang benar.
7.    Memeberi ilmu pengetahuan keluarga.
8.    Membina mental spiritual.
9.    Menggauli istri, menghormati istri, bergaul hanya dengan istri.
10.    Suami sebagi pelindung istri.
11.    Bertugas mengawinkan putra putrinya dengan adill
Sedangkan tugas istri, dalam Kitab Mahabharat disebutkan; istri sebagai ibu, juga sebagai dewi, sebagai permaisuri. Dalam Kitab Ramayana, tugas istri adalah:
1.    Melahirkan dan memelihara anak.
2.    Memberi kebahagiaan pada suami dan anak.
3.    Ramah pada suami dan keluarga suami, baik dalam suka maupun duka.
4.    Memeberi kebahagiaan dan keberuntungan pada suami dan mertua.
5.    Menjadi pengayom dalam keluarga.
6.    Berpeampilan lemah lembut dan simpatik.
7.    Menjadi pelopor kebaikan dalam keluarga.
8.    Patuh pada suami.
9.    Setia pada suami.
10.    Senantiasa waspada dan tahan uji.
11.    Menghormat pada orangtua.
Dalam Hindu, perempuan bisa menjadi pendeta (padane). Bahkan disebutkan jika perempuan tidak dihormati, maka tidak ada upacara persembahan yang memberi kebahagiaan dan pahala yang mulia.
Sementara itu, tugas anak adalah:
1.    Menuntut ilmu pengetahuan (masa Brahma Carya)
2.    Menghormati orangtua
3.    Menjadi anak yang su putra (anak yang baik), menjaga nama baik keluarga
4.    Menyenangkan hati orangtua dan tidak boleh berbicara kasar pada orangtua
Forum kemudian dilanjutkan dengan diskusi, yang dimulai dengan pertanyaan dari Bapak Imam; "1) Apakah dalam agama Hindu tidak ada ajaran selibat? 2) Ketika melarang umatnya untuk tidak melakukan suatu perbuatan tertentu, apakah ada sanksi hukuman? 3) Bagaimana komentar agama/ lembaga Parisade Hindu Dharma terhadap UU PKDRT?" Dijawab oleh Bapak Ida; "1) Dalam Hindu, ada tiga jenis orang, pertama; Sukle Brahma Care, mereka ini tidak beristri sejak awak hingga mati. Kedua; Sewala Brahma Care, hanya beristri satu atau bersuami sekali seumur hidup. Ketiga; Tresna Brahma Care, memberi kesempatan bagi laki-laki untuk menikah lebih dari satu, maksimal empat perempuan. 2) Menurut ajaran Hindu, semua perbuatan (baik atau buruk) akan menerima karmanya. 3) Fatwa untuk tidak melakukan kekerasan, jelas ada. Di samping itu, ajaran Hindu meyakini ketika kekerasan terjadi berarti tidak terjadi kepatuhan terhadap ajaran agama. Fatwa ini dikeluarkan para pendeta yang duduk di Parisade Hindfu Dharma, yang di dalam Parisade Hindu Dharma ini juga terdapat perempuan.
    Pertanyaan dilanjutkan oleh Bapak Edi S.; "Dalam Hindu, apakah ada ruang untuk pembolehan perceraian?" Dijawab oleh Bapak Ida; "Perceraian bisa terjadi ketika seorang istri meninggalkan suaminya selama 3 hari. Sehingga suami bisa menyatakan dia bukan istrinya lagi. Karena bersifat patriarkhi, maka anak ikut suami.
    Bapak Edi S. kembali bertanya; "Tidak adakah, karena dogma patriarkhi, kemudian laki-laki merasa bisa berbuat kekerasan?" Dijawab: "Manusia itu Dewaye butaye, artinya bisa berbuat baik dan bisa pula berbuat kejahatan. Kalau terjadi kekerasan itu berasal dari masing-masing pribadi. Dalam ajaran Hgindu, tidak ada pembenaran kekerasan."
    Apakah orang yang sekarang manusia besok reinkarnasi menjadi manusia lagi?" tanya Bapak Edi S. "Belum tentu, reinkarnasi menjadi manusia adalah merupakan karma baik. Konsep karma ini mendorong umat Hindu untuk berbuat baik karena adanya dorongan untuk mendapat karma baik. Dalam agama Hindu yang dicari adalah Moksa, yaitu bersatunya manusia dengan Tuhan.
    Permasalahan yang sering dilontarkan berkaitan dengan Hindu adalah istilah Varna yaitu fungsi dalam kehidupannya. Varna ini adalah; Brahmana (orang yang ahli Vreda), Ksatria (yaitu orang yang ahli pemerintahan), Weisya (orang yang ahli ekonomi) dan Sudra (orang yang menggunakan tenaga fisik, seperti petani dsb). Tingkatan dalam hal ini adalah bersifat horisontal, bukan vertikal. Masing-masing tingkatan adalah sama, tidak ada salah satu tingkatan yang lebih mulia daripada yang lainnya. Kemuliaan bergantung pada bagaimana dia melakukan tugas dan kewajibannya. Pembentukan kelas-kelas ini bukan karena ajaran agama, tetapi lebih merupakan tatanan kehidupan."
    Bapak Edi S. bertanya kembali; "Apakah Hindu Indonesia dengan Hindu di India sama?". Dijawab oleh Bapak Ida; "Berbeda, kita punya sifat, bentuk, isi dan irama. Kita sama sifatnya, tetapi berbeda dalam bentuk, isi dan irama."
 
< Prev   Next >

Studi Buku

Image
Read more...
 

Statistics

Visitors: 31588
We have 3 guests online