Center For Islamics Studies - Pusat Studi Islam

Advertisement
You are here: Home arrow Home arrow Pendekatan Normatif dan Deskriptif dalam Studi Islam (Telaah atas Karya Charles J. Adams)
Pendekatan Normatif dan Deskriptif dalam Studi Islam (Telaah atas Karya Charles J. Adams) Print E-mail
Written by Muhammad Latif Fauzi, SHI, MSI   
Friday, 13 July 2007
Pendahuluan

Terdapat dua persoalan yang menjadi kegelisahan akademik Adams sehingga ia membuat pemetaan pendekatan studi Islam, yaitu pertama, Islam, berkenaan dengan betapa sulitnya membuat garis pemisah yang jelas antara mana wilayah yang Islami dan yang tidak. Kedua, agama, adanya persoalan yang sangat rumit ketika ada yang memahami agama (Islam) sebagai tradisi (tradition) dan sebagai kepercayaan (faith) an sich.

Penelitian Adams ini penting karena pertama, beberapa universitas (baik di Barat maupun di daerah lainnya) masih menyimpan sejumlah masalah dalam mengadakan studi Islam secara netral dengan menggunakan pendekatan yang ilmiah. Kedua, terjadinya kebuntuan metodologis dan pendekatan di kalangan mahasiswa (baik di Barat maupun Timur) ketika mempelajari studi agama. Di satu pihak, mahasiswa dituntut agar dapat memahami agama dalam orientasi akademik, pada pihak yang lain, mereka harus menjaga nilai transendetal dari agama.

Dalam mengkaji persoalan agama dan Islam, Charles J. Adams telah menelaah karya-karya peneliti sebelumnya, di antaranya von Grunebaum, W.C. Smith,  Kenneth Gragg. Dari karya-karya itu Adams membuat pemetaan terhadap pendekatan studi Islam.

Kontribusi akademik dari peneltian Adams ini antara lain, pertama, memiliki nilai kontributif yang sangat signifikan dalam memecahkan problem studi Islam di lembaga akademik (universitas), terutama dalam hal pendekatan dan metodologi yang akan dipakai. Kedua, membantu mereka untuk memahami agama, baik dalam konteks historis-empiris maupun normatif-teologis.

Tulisan Charles J. Adams ini dimulai dengan pembahasan tentang Islam dan agama. Setelah problem di dalamya,  Adams membuat dua formulasi pendekatan studi Islam, yaitu pendekatan normatif (yang terdiri dari pendekatan misionaris tradisional, pendekatan apologetik, dan pendekatan irenic) dan pendekatan deskriptif–(yang mencakup pendekatan filologis dan sejarah, pendekatan ilmu sosial, dan pendekatan fenomenologis). Selanjutnya Adams, membagi wilayah kajian Islam ke dalam 11 aspek. Pada bagian terakhir tulisannya, Adams memberikan beberapa rekomendasi untuk pengambangan studi Islam masa depan.

Kegelisahan Akademik

Berbicara tentang persoalan Islam dikaitkan dengan tradisi, terdapat dua hal penting yang perlu dipikir ulang (rethought) menurut Charles J. Adams, yaitu Islam dan agama.[1] Dua hal itu merupakan kata kunci yang menjadi kegelisahan akademik Adams sehingga ia berkeinginan menggagas sebuah formulasi pendekatan studi Islam yang  tepat dalam mengkaji persoalan Islam, agama, dan tradisi.

Persoalan yang pertama, Islam, berkenaan dengan betapa sulitnya membuat garis pemisah yang jelas antara mana wilayah yang Islami dan yang tidak. Banyak orang yang masih takut membuat penjelasan atau jawaban ketika ditanya tentang Islam, apalagi jika jawaban itu berbeda dan kontradiktif dari persepsi yang selama ini telah terbangun. Padahal, menurut Adams, mustahil menjelaskan dan menemukan pemahaman esensi Islam yang dapat mencapai kesepakatan universal.[2]

Dalam konteks ini, maka selain Islam harus dipahami–dalam perspektif sejarah–sebagai sesuatu yang selalu berubah (change) dan berkembang (evolve), generasi Muslim harus mampu pula merespon kenyataan dunia (vision of reality) dan makna kehidupan manusia (meaning of human life). [3] Dengan demikian Islam bukanlah sesuatu yang satu. Islam tidak hanya sistem kepercayaan dan ibadah, tetapi multisistem dalam historisitas yang selalu berubah dan berkembang.[4] Charles J. Adams mengatakan:

Thus Islam cannot be one thing but rather is many systems, not a system of beliefs and practices, etc., but many systems(or non systems) in a never ceasing flux  of development and changing relations to evolving historical situations.[5]

Sedangkan, menyangkut persoalan kedua, agama, Adams–mengutip dari W.C. Smith–mengungkapkan bahwa terdapat persoalan yang sangat rumit ketika ada yang memahami agama (Islam) sebagai tradisi (tradition) dan sebagai kepercayaan (faith) an sich.[6] Agar lebih sederhana, penulis mengilustrasikan dalam tabel berikut:

| Tradition            |  Faith      |
| External             |  Internal  |
| Observe social   |  Ineffable (tak terkatakan)
| Historical aspect |  Transendentally oriented
  of religiousness  
|                         |  Private dimension of religious life

Dua pemahaman yang berbeda di atas, sama-sama berdiri kokoh. Di satu sisi, aliran tradisi menghendaki pendekataan agama dilakukan dalam frame yang bersifat eksternalistik, sosial, dan historis, pada sisi yang lain, aliran faith menghendaki agar agama dimaknai dari sisi yang berkarakter internalistik,  innefable, transenden, dan berdimensi privat.

Agar dapat mencerna dan memahami dua model pemahaman agama yang saling bertolak belakang tersebut, Adams terdorong melakukan penelitian dalam konteks studi Islam. Bagaimanapun juga, menurutnya, agama memiliki dua sisi yang tak terpisahkan, pengalaman batiniah (inward experience) dan sikap keberagamaan lahiriah (outward behavior). Begitu juga, para mahasiswa Islamic studies harus mampu mencurahkan segala kemampuannya dalam mengeksplorasi keduanya.

Selain itu, persoalan agama yang tersisa, menurut Adams, adalah terlalu banyaknya definisi tentang agama. Kendati seseorang dapat menemukan pemahaman terhadap agama–dalam pengertian umum–yang dapat memuaskannya, tetapi masih terdapat pertanyaan yang harus dijawab, misalnya, dalam konteks agama apa seseorang dapat menemukan pemahaman yang utuh terhadap agama, Islamkah atau yang lain? Atau taruhlah keberagamaan seseorang dapat dilihat dari keyakinan terhadap doktrin agama, pelaksanaan ibadah, moral yang baik, partisipasinya dalam kehidupan sosial, pertanyaan kemudian adalah apakah beberapa hal itu mencukupi untuk memahami agama?  Bukankah masih ada hal lain di balik itu semua, seperti pengalaman keagamaan yang bersifat individual dan gnostic yang tidak dapat terukur?[7]

Bertolak dari beberapa masalah di atas, baik seputar Islam maupun agama, penulis berusaha merumuskan beberapa kegelisahan akademik Charles J. Adams dalam pertanyaan-pertanyaan berikut: bagaimana Islam dan agama selayaknya dipahami? Pendekatan apa yang dapat digunakan dalam mengkaji persoalan Islam dan agama?

Pentingnya Topik Penelitian

Penelitian Charles J. Adams, sejauh amatan penulis, memiliki nilai signifikansi paling tidak dalam dua hal, yaitu:

Pertama, beberapa universitas (baik di Barat maupun di daerah lainnya) masih menyimpan sejumlah masalah dalam mengadakan studi Islam secara netral dengan menggunakan pendekatan yang ilmiah. Penelitian yang dilakukan oleh Adams ini memiliki nilai kontributif yang sangat signifikan dan urgen dalam memecahkan problem studi Islam di lembaga akademik (universitas), terutama dalam hal pendekatan dan metodologi yang akan dipakai.

Kedua, kebuntuan yang terjadi di kalangan mahasiswa (baik di Barat maupun Timur) dalam mempelajari studi agama. Di satu pihak, mahasiswa dituntut agar dapat memahami agama dalam orientasi akademik, pada pihak yang lain, mereka harus menjaga nilai transendetal dari agama.

Penelitian Terdahulu

Dalam mengkaji persoalan agama dan Islam, Charles J. Adams telah menelaah karya-karya peneliti sebelumnya, di antaranya von Grunebaum, W.C. Smith,  Kenneth Gragg.

von Grunebaum mengemukakan bahwa kesadaran umat Islam telah beralih dari heterogenetic kepada orthogenetic. Pendapat ini dipakai oleh Adams, ketika ia menjelaskan bahwa dunia Islam dewasa ini dihadapakan pada persoalan yang cukup dilematis ketika berhubungan dengan modernitas, di mana umat Islam hanya dapat pasrah pada keadaan dan bergantung pada takdir Tuhan.[8]

W.C. Smith seperti dirujuk oleh Adams, menjelaskan problem keagamaan baik pada tataran pengalaman keagamaan secara batin maupun sikap keberagamaan secara lahir dengan membuat pembedaan yang jelas antara sisi tradisi empiris pada agama dan sisi kepercayaan doktrinal pada agama. Yang pertama berkait erat dengan wilayah eksternal, penelitian sosial, dan aspek historis dari keberagamaan itu sendiri. Sedang yang kedua menyangkut wilayah internal, innefable, orientasi transendental, dan dimensi kehidupan agama yang sangat privat.[9]

Kenneth Gragg dalam pandangan Adams adalah seorang yang sangat mumpuni dalam kajian Arab dan seorang theolog yang excellent. Melalui beberapa seri tulisannya yang cukup elegan dan dengan gaya bahsa yang puitis, ia telah cukup berhasil menunjukkan kepada Barat secara umum dan kaum Kristen secara khusus tentang adanya keindahan dan nilai religius yang menjiwai tradisi Islam. Hal ini, menurutnya, menjadi tugas bagi kaum Kristen untuk bersikap terbuka terhadap kenyataan ini.[10]

Pendekatan Penelitian

Berbicara mengenai kajian Islam, Charles J. Adams mempunyai uraian tersendiri dalam penjelasannya tentang pendekatan yang ia lakukan. Berdasar pada kegelisah akademik yang telah dijelaskan di bagian awal tulisannya, pendekatan studi Islam yang ia tawarkan merupakan jalan keluar atas persoalan yang terjadi di beberapa universitas di Barat. Persoalan itu adalah kesulitan universitas dalam mengadakan studi agama yang netral[11] ketika mengkaji sisi normativitas dan filosofis agama.

Oleh karena itu, Charles J. Adams membuat formulasi baru pendekatan dalam pengkajian Islam. Menurutnya, terdapat dua pola pendekatan untuk mengkaji Islam, yaitu pendekatan normatif dan pendekatan deskriptif.

Tentu saja, dua pendekatan ini tidak muncul seketika. Adams menjelaskan bahwa dua pendekatan ini terilhami oleh realitas ketika seseorang mengkaji Islam (atau agama lainnya) dengan tujuan agar lebih kokoh keislaman dan kepercayaannya (proselytizing) pada satu sisi, dan pada sisi yang lain, ada yang didasarkan atas dorongan intelektual (intellectual curiosity) semata karena melihat adanya persoalan agama yang cukup kompleks dalam konteks sosial.[12]

Penjelasan lebih detail dan komprehensif tentang dua pendekatan di atas, dapat dilihat pada uraian berikut ini.

Pendekatan normatif. Pendekatan ini, oleh Adams diklasifikasi menjadi tiga bagian, yaitu:

1. Pendekatan missionaris tradisional

Pada abad 19, terjadi gerakan misionaris besar-besaran yang dilakukan oleh gereja-gereja, aliran, dan sekte dalam Kristen. Gerakan ini menyertai dan sejalan dengan pertumbuhan kehidupan politik, ekonomi, dan militer di Eropa yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat di Asia dan Afrika. Sebagai konsekuensi logis dari gerakan itu, banyak misionaris dari kalangan Kristen yang pergi ke Asia dan Afrika mengikuti kolonial (penjajah) untuk merubah suatu komunitas masyarakat agar masuk agama Kristen serta meyakinkan masyarakat akan pentingnya peradaban Barat.[13]

Untuk mewujudkan tujuannya tersebut, para missionaris berusaha dengan sungguh untuk membangun dan menciptakan pola hubungan yang erat dan cair dengan masyarakat setempat. Begitu juga dengan penjajah, mereka harus mempelajari bahasa daerah setempat dan bahkan tidak jarang mereka terlibat dalam aktivitas kegiatan masyarakat yang bersifat kultural. Dengan demikian, eksistensi dua kelompok itu, missionaris tradisional dan penjajah (yang sama-sama beragama Kristen) mempunyai pengaruh yang sangat signifikan terhadap perkembangan keilmuan Islam.[14]

Dalam konteks itu–karena adanya relasi yang kuat antara Islam dan missionaris Kristen–, maka Charles J. Adams berpendapat bahwa studi Islam di Barat dapat dilakukan dengan memanfaatkan missionaris tradisional itu sebagai alat pendekatan yang efektif. Dan inilah yang kemudian disebut dengan pendekatan missionaris tradisional (traditional missionaris approach) dalam studi Islam.

2. Pendekatan apologetik

Di antara ciri utama pemikiran Muslim pada abad kedua puluh satu adalah “keasyikannya” (preoccupation) dengan pendekatan apologetik dalam studi agama. Dorongan untuk menggunakan pendekatan apologetik dalam khazanah pemikiran keislaman semakin kuat. Di sebagian wilayah dunia Islam, seperti di India, cukup sulit ditemukan penulis yang tidak menggunakan pendekatan apologetik. Perkembangan pendekatan apologetik ini dapat dimaknai sebagai respon mentalitas umat Islam terhadap kondisi umat Islam secara umum ketika dihadapkan pada kenyataan modernitas. Selain itu, apologetik ini muncul didasari oleh kesadaran seorang yang ingin keluar dari kebobrokan internal dalam komunitasnya dan dari jerat penjajahan peradaban Barat.[15]

Menurut Adams, pendekatan apologetik memberikan kontribusi yang positif dan cukup berarti terhadap generasi Islam dalam banyak hal. Sumbangsih yang terpenting adalah menjadikan generasi Islam kembali percaya diri dengan identitas keislamannya dan bangga terhadap warisan klasik. Dalam konteks pendekatan studi Islam, pendekatan apologetik mencoba menghadirkan Islam dalam bentuk yang baik. Sayangnya, pendekatan ini terkadang jatuh dalam kesalahan yang meniadakan unsur ilmu pengetahuan sama sekali.

Secara teoritis, pendekatan apologetik dapat dimaknai dalam tiga hal. Pertama, metode yang berusaha mempertahankan dan membenarkan kedudukan doktrinal melawan para pengecamnya. Kedua, dalam teologi, usaha membenarkan secara rasional asal muasal ilahi dari iman. Ketiga, apologetik dapat diartikan sebagai salah satu cabang teologi yang mempertahankan dan membenarkan dogma dengan argumen yang masuk akal. Ada yang mengatakan bahwa apologetika mempunyai kekurangan internal. Karena, di satu pihak, apologetik menekankan rasio, sementara di pihak lain, menyatakan dogma-dogma agama yang pokok dan tidak dapat ditangkap oleh rasio. Dengan kata lain, apologetik, rasional dalam bentuk, tetapi irasional dalam isi.[16]

3. Pendekatan irenic

Yang ketiga ini ada semacam usaha untuk membuat jembatan antara cara pandang para orientalis terdahulu yang penuh dengan motivasi negatif dan para pengikut Islam yang merasa hasil kajian para orientalis tersebut banyak mengandung penyimpangan.

Sejak Perang Dunia II,  gerakan yang berakar dari lingkungan kegamaan dan universitas tumbuh di Barat. Gerakan itu bertujuan untuk memberikan apresiasi yang baik terhadap keberagamaan Islam dan membantu mengembangkan sikap apresiatif itu. Langkah ini dilakukan untuk menghilangkan prasangka, perlawanan, dan hinaan yang dilakukan oleh barat, khususnya Kristen Barat, terhadap Islam. Oleh karena itu, langkah praktis yang dilakukan adalah membangun dialog antara umat Islam dengan kaum Kristen untuk membangun jembatan penghubung yang saling menguntungkan antara tradisi kegamaan dan bangsa.[17]

Salah satu bentuk dari usaha untuk harmonisasi itu adalah melalui pendekatan irenic.[18] Usaha ini pernah dilakukan oleh uskup Kenneth Gragg, seorang yang mumpuni dalam kajian Arab dan teologi.[19] Melalui beberapa seri tulisannya yang cukup elegan dan dengan gaya bahsa yang puitis, ia telah cukup berhasil menunjukkan kepada Barat secara umum dan kaum Kristen secara khusus tentang adanya keindahan dan nilai religius yang menjiwai tradisi Islam. Karenanya, menjadi tugas bagi kaum Kristen untuk bersikap terbuka terhadap kenyataan ini.

Tokoh lain yang telah mengembangkan pendekatan ini adalah W.C. Smith yang mensosialisasikan konsep ini melalui buku dan tulisan-tulisannya yang lain. Smith sangat concern pada persoalan diversitas (perbedaan) agama. Menurutnya, perbedaan agama (religious diversity) merupakan karakter dari ras/bangsa manusia secara umum, sedang eksklusifitas agama (religous exclusiviness) merupakan karakter dari sebagian kecil dari umat manusia.

Berkenaan dengan realitas perbedaan agama, Smith membuat tiga model pertanyaan, yaitu: pertama,  pertanyaan ilmiah (scientific question) untuk menanyakan apa bentuk perbedaan, mengapa, dan bagaimana perbedaan itu dapat terjadi. Kedua, pertanyaan teologis (theological question) untuk mengetahui bagaimana seseorang dapat memahami normativitas agama dan ketiga, pertanyaan moral (moral question) yang mengetahui sikap seseorang terhadap perbedaan kepercayaan.[20]

Pendekatan deskriptif. Dalam pendekatan yang bersifat deskriptif, Adams membagi ke dalam tiga komponen, yaitu:

Pendekatan filologis dan sejarah

Adams mengemukakan bahwa tidak dapat dipungkiri pengetahuan yang paling produktif dalam studi Islam adalah filologis dan historis. Lebih dari 100 tahun sarjana Islam dibekali dengan dasar bahasa dan mendapat training metode filologis yang dapat mengantarkan kepada pemahaman teks sebagai bagian dari warisan klasik.[21]

Hasil dari studi dengan pendekatan filologis, menurut Adams, adalah sebuah sumber pustaka (literatur) yang dapat menyentuh semua aspek kehidupan dan kesalihan umat Islam. Tidak hanya menjadi rujukan pengetahun Barat tentang Islam dan sejarahnya, filologis juga memainkan peranan penting di dunia Islam. Outcome dari pendekatan filologis dan historis ini sebagian besar telah dimanfaatkan oleh para intelektual, politisi, dan sebagainya. Selain itu, filologi harus turut andil dalam studi Islam. Hal terpenting yang dimiliki oleh mahasiswa Muslim adalah kekayaan literatur klasik seperti sejarah, teologi, dan mistisisme. yang kesemuanya tidak mungkin dipahami tanpa bantuan filologi.[22]

Penelitian agama dengan menggunakan pendekatan filologi dapat dibagi dalam tiga pendekatan, yaitu tafsir, content analysis, dan hermeneutika. Ketiga pendekatan tersebut tidak terpisah secara ekstrim. Pendekatan-pendekatan itu bisa over lapping, saling melengkapi, atau bahkan dalam sudut tertentu sama.[23] Filologi berguna untuk meneliti bahasa, meneliti kajian linguistik, makna kata-kata dan ungkapan terhadap karya sastra.[24]

Sedangkan sejarah atau historis merupakan ilmu yang di dalamnya dibahas berbagai peristiwa dengan memperhatikan unsur tempat, waktu, obyek, latar belakang, dan pelaku dari peristiwa tersebut. Melalui pendekatan sejarah seseorang diajak menukik dari alam idealis ke alam yang bersifat empiris dan mendunia. Dari keadaan ini seseorang akan melihat adanya kesenjangan atau keselarasan antara yang terdapat dalam alam idealis dengan yang ada di alam empiris dan historis.[25]

Ada dua unsur pokok yang dihasilkan oleh analisis sejarah. Pertama, kegunaan dari konsep periodesasi dan derivasi darinya. Kedua, rekonstruksi proses genesis, perubahan, dan perkembangan.dengan analisis ini, manusia dapat dipahami secara kesejarahan.[26]

Kendati Adams menyebut pendekatan ini dengan filologis historis, tampaknya ia lebih cenderung kepada yang pertama, karena porsi penjelasan tentang filologis lebih besar dari pada historis. Bisa jadi, karena hubungan antara kedua pendekatan itu sangat erat sehingga bagi Adams berbicara filologis termasuk di dalamnya pendekatan historis.[27]

Pendekatan ilmu-ilmu sosial

Sangat sulit untuk mendefinisikan apa yang disebut dengan “pendekatan ilmu sosial” terhadap studi agama terutama semenjak terdapat banyak pendapat di kalangan ilmuwan tentang alam dan validitas studi yang mereka gunakan.[28]

Dalam wilayah studi agama, usaha yang ditempuh oleh pakar ilmu sosial adalah memahami agama secara objektif dan peranannya dalam kehidupan masyarakat. Tujuannya agar dapat menemukan aspek empirik dari keberagamaan berdasarkan keyakinan bahwa dengan membongkar sisi empirik dari agama itu akan membawa seseorang kepada agama yang lebih sesuai dengan realitasnya, profan (membumi).[29] Walaupun ilmu ini juga mempunyai kekurangan, yaitu melakukan reduksi pemahaman seseorang terhadap agama.

Salah satu ciri dari ilmu sosial ini adalah kecenderungannnya untuk melakukan studi tentang manusia dengan cara membagi dan memetakan aktivitas masyarakat ke dalam beberapa kategori.

Dalam diskursus penelitian agama di Indonesia, Mukti Ali misalnya menyatakan bahwa Islamisis dan atau agamawan lebih cenderung untuk mempelajari ilmu sosial. Hal ini disebabkan karena: pertama, salah satu ciri pemikiran ahli agama adalah spekulasi teoritis. Menurut mereka pemikiran spekulasi teoritis itu ternyata tidak dapat memecahkan masalah. Kedua, mereka menyadari bahwa usaha memahami masyarakat religius harus juga didekati dengan metode empiris, dengan demikian ilmu sosial menjadi perlu. Ketiga, dalam kasus tertentu, pendekatan secara deduktif seringkali menimbulkan “kekecewaan”. Untuk hal ini, maka selain pendekatan secara deduktif, pendekatan secara induktif harus dikembangkan, yaitu mengajukan berabagi macam fakta sebagai bukti kebenaran yang umum. Dalam konteks ini, mutlak diperlukan penguasaan terhadap ilmu pengetahuan sosial.[30]

Menurut Atho’ Mudzhar, agama merupakan gejala sosial dan budaya.[31] Cakupan objek studi agama (Islam) dalam perspektif sosiologis, menurutnya, dapat diklasifikasikan menjadi beberapa tema kajian, yaitu (1) pengaruh agama terhadap masyarakat, (2) pengaruh struktur dan perubahan masyarakat terhadap pemahaman ajaran agama atau konsep keagamaan, (3) tingkat pengamalan beragama masyarakat, (4) pola interaksi sosial masyarakat muslim, dan (5) gerakan masyarakat yang membawa paham yang dapat melemahkan atau menunjang kehidupan beragama.[32]

Pendekatan fenomenologis

Terdapat dua hal penting yang mencirikan pendekatan fenomenologi agama. Pertama, fenomenologi adalah metode untuk memahami agama sesorang yang termasuk di dalamnya usaha sebagian sarjana dalam mengkaji pilihan dan komitmen mereka secara netral sebagai persiapan untuk melakukan rekonstruksi pengalaman orang lain. Kedua, konstruksi skema taksonomik untuk mengklasifikasi fenomena dibenturkan dengan batas-batas budaya dan kelompok religius. Secara umum, pendekatan ini hanya menangkap sisi pengalaman keagamaan dan kesamaan reaksi keberagamaan semua manusia secara sama, tanpa memperhatikan dimensi ruang dan waktu dan perbedaan budaya masyarakat.[33]

Arah dari pendekatan fenomenologi adalah memberikan penjelasan makna secara jelas tentang apa yang yang disebut dengan ritual dan uapacara keagamaan, doktrin, reaksi sosial terhdap pelaku “drama” keagamaan. Sebagai sebuah ilmu yang relatif kebenarannya, pendekatan ini tidak dapat berjalan sendiri. Secara operasioonal, ia membutuhkan perangkat lain, misalnya sejarah, filologi, arkeologi, studi literatur, psikologi, sosiologi, antropologi, dan sebagainya.[34]

Istilah fenomenologi berasal dari bahasa Yunani pahainomenon yang secara harfiah berarti “gejala” atau “apa ayng telah menampakkan diri” sehingga nyata bagi kita. Metode ini dirintis oleh Edmund Husserl (1859-1938). Dalam operasionalnya, fenomenologi agama menerapkan metodologi ilmiah dalam meneliti fakta religius yang bersifat subyektif seperti pikiran-pikiran, perasaan-perasaan, ide-ide, emosi, maksud, pengalaman, dan sebagainya dari seseorang yang diungkapkan dalam tindakan luar.[35]

Pendekatan fenomenologi berusaha memperoleh gambaran yang lebih utuh dan lebih fundamental tentang fenomena keberagamaan manusia. Pendekatan fenomenologi berupaya untuk mencari esensi keberagamaan manusia. Usaha pendekatan fenomenologi agaknya mengarah ke arah balik, yakni untuk mengembalikan studi agama yang bersifat historis-empiris ke pangkalannya agar tidak terlalu jauh melampaui batas-batas kewenangannya.[36]

Untuk memahami Islam dan agama terkait dengan tradisi, ternyata tidak cukup dengan hanya menjelaskan dua pendekatan di atas. Agar komprehensif dan sistematis, penjelasan Admas juga disertai dengan pemaparan tentang objek kajian agama.

Oleh karena itu, setelah menjelaskan pendekatan-pendekatan yang dapat digunakan dalam studi Islam tersebut, Adams juga memetakan wilayah kajian studi Islam. Adams mengelompokkan studi Islam menjadi: (1) Arabia pra-Islamic (pre-Islamic Arabia) (2) Kajian tentang Rasul (studies of the Prophet) (3) Kajian al-Qur'an (Qur’anic studies) (4) Hadits (prophetic tradition) (6) Hukum Islam (Islamic law) (7) Filsafat (falsafah) (8) Tasawuf (tasawwuf) (9) Aliran dalam Islam (the Islamic sects) (10) Ibadah (worship and devotional life) (11) dan Agama Rakyat (popular religion).

Ruang Lingkup dan Istilah Kunci Penelitian

Ruang lingkup penelitian yang dilakukan Adams adalah Islam dan agama. Berkenaan dengan dua hal tersebut, pertanyaan mendasar yang muncul adalah bagaimana masing-masing dari keduanya dipahami serta  pendekatan apa yang dapat dipakai untuk memahami keduanya. Berangkat dari dua kunci pokok tersebut, menurut Adams, terdapat pendekatan normatif dan deskriptif dalam studi Islam.

Dengan demikian, ruang lingkup dan atau istilah kunci dalam penelitian Adams ini antara lain: pendekatan normatif: pendekatan misisonaris tradisional, pendekatan apologetik, dan pendekatan irenic, pendekatan deskriptif: pendekatan filologis dan sejarah, pendekatan ilmu-ilmu sosial, dan pendekatan fenomenologis.

Sumbangan Terhadap Pengetahuan

Penelitian yang dilakukan oleh Charles J. Adams ini memiliki sumbangan yang besar terhadap dua hal, pertama, penelitian yang dilakukan oleh Adams ini memiliki nilai kontributif yang sangat signifikan dan urgen dalam memecahkan problem studi Islam di lembaga akademik (universitas), terutama dalam hal pendekatan dan metodologi yang akan dipakai. Kedua, penelitian ini membantu mereka untuk memahami agama, baik dalam konteks historis-empiris maupun normatif-teologis.

Sumbangan yang lain adalah gagasan agar dilakukannya pengembangan terhadap studi Islam masa depan (future studies). Sederhananya, Adams memberikan rekomendasi kepada para mahasiswa Islamic studies agar memprioritaskan kajian sebagai berikut: (1) studi al-Qur’an terutama yang terkait dengan ide dan pandangan dunia al-Qur’an, (2) sejarah teologi Islam masa awal, lebih spesifik lagi kajian tentang Mu’tazilah, (3) studi tentang sufi, (4) studi tentang syiah dengan fokus keunikan dan kekayaan kontribusi Syiah bagi ilmu agama, dan (5) studi Islam dalam konteks metode dengan pendekatan ilmiah serta sejarah agama (religionwissenschaft).

Sistematika Penulisan

Tulisan Charles J. Adams ini dimulai dengan pembahasan tentang Islam dan agama. Setalah menjelaskan tentang persoalan dalam Islam dan agama secara umum, Adams menwarkan dua pendekatan dalam studi Islam, yaitu pendekatan normatif (yang terdiri dari pendekatan misionaris tradisional, pendekatan apologetik, dan pendekatan irenic) dan pendekatan deskriptif–(yang mencakup pendekatan filologis dan sejarah, pendekatan ilmu sosial,dan pendekatan fenomenologis). Selanjutnya Adams, membagi wilayah kajian Islam ke dalam 11 aspek. Pada bagian terakhir tulisannya, Adams memberikan beberapa rekomendasi untuk pengambangan studi Islam masa depan.

Daftar Pustaka

Abdullah, M. Amin, “Relevansi Studi Agama-Agama dalam Milenium Ketiga” dalam Amin Abdullah dkk., Mencari Islam (Studi Islam dengan Berbagai Pendekatan), Yogyakarta: Tiara Wacana, 2000.

________, Studi Agama: Normativitas atau Historisitas? Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002.

________, “Rekonstruksi Metodologi Agama dalam Masyarakat Multikultural dan Multireligius” dalam Ahmad Baidowi, dkk (Ed.), Rekonstruksi Metodologi Ilmu-Ilmu Keislaman, Yogyakarta: SUKA-Press, 2003.

Adams, Charles J., “Islamic Religious Tradition” dalam Leonard Binder (Ed.) The Study of The Middle East: Research and Scholarship in the Humanities and the Social Science, Canada: John Wiley and Sonc, Inc, 1976.

Bagus, Lorens, Kamus Filsafat, Jakarta: Gramedia, 2000.

Mudzhar, M. Atho’, Pendekatan Studi Islam dalam Teori dan Praktek, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004.

________, “Pendekatan Sosiologi dalam Studi Hukum Islam” dalam Amin Abdullah dkkk., Mencari Islam: Studi Islam dengan Berbagai Pendekatan, Yogyakarta: Tiara Wacana, 2000.

Mukti Ali, “Penelitian Agama di Indonesia” dalam Mulyanto Sumardi, Penelitian Agama: Masalah dan Pemikiran, Jakarta: Sinar Harapan, 1982.

Nasution, Khoiruddin, “Pembidangan Ilmu dalam Studi Islam dan Kemungkinan Pendekatannya” dalam Amin Abdullah dkk, Tafsir Baru Studi Islam dalam Era Multikultural, Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga, 2002.

Nata, Abuddin, Metodologi Studi Islam, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2000.

O’ Collins, Gerald dan Edward G. Farrugia, Kamus Teologi, Yogyakarta: Kanisius, 2001.

Suprayogo, Imam dan Tobroni, Metodologi Penelitian Sosial-Agama, Bandung: Rosdakarya, 2001.

Shiddiqi, Nourouzzaman, “Sejarah: Pisau Bedah Ilmu Keislaman” dalam Taufik Abdullah (Ed.), Metodologi Penelitian Agama: Sebuah Pengantar, Yogyakarta: Tiara Wacana, 1991.

[1] Charles J. Adams, “Islamic Religious Tradition” dalam Leonard Binder (Ed.) The Study of The Middle East: Research and Scholarship in the Humanities and the Social Science (Canada: John Wiley and Sonc, Inc, 1976), hlm. 29.

[2] Ibid., hlm. 31.

[3] Ibid.

[4] Hal ini selaras dengan pendapat M. Amin Abdullah yang menyatakan bahwa dalam diskursus keagamaan kontemporer telah dijelaskan bahwa agama mempunyai banyak wajah (multifaces), bukan lagi berwajah tunggal. Agama tidak lagi dipahami sebagai hal yang semata-mata terkait dengan persoalan ketuhanan, kepercayaan, credo, pandangan hidup, dan ultimate concern. Selain sifat konvensionalnya, tenyata agama juga terkait erat dengan dengan persoalan-persoalan historis-kultural yang merupakan keniscayaan manusiawi belaka.. Lebih lanjut baca Amin Abdullah, “Rekonstruksi Metodologi Agama dalam Masyarakat Multikultural dan Multireligius” dalam Ahmad Baidowi, dkk (Ed.), Rekonstruksi Metodologi Ilmu-Ilmu Keislaman (Yogyakarta: SUKA-Press, 2003), hlm. 4.

[5] Charles J. Adams, op. cit., hlm. 31.

[6] Ibid.., hlm. 33.

[7] Ibid., hlm. 32-33.

[8] Ibid., hlm. 30.

[9] Ibid., hlm. 33.

[10] Ibid., hlm. 38.

Last Updated ( Friday, 13 March 2009 )
 
< Prev

Studi Buku

Image

Read more...
 

Statistics

Visitors: 173148